nature of human being and miracle between fears

Jakarta, 27.10.2009; 11.43 PM

manusia. seiring dengan perjalanan mereka melawan perputaran bumi dan menjadi dewasa, tingkat ketakutan terhadap banyak hal juga semakin menguat. saat ini gw sangat terkesima dengan mind set anak-anak kecil yang dengan tegas berani menghadapi hal baru, dan mencoba berbagai tantangan.

manusia dewasa. ketika mereka telah menegak asam garam kehidupan, mereka cenderung menjadi antipati. tidak ingin meninggalkan comfort zone. dan takut. trauma.

takut jatuh. takut kecewa. takut luka. takut kecoa. takut buaya. takut paku. takut sakit. takut hujan. takut balon. takut anjing. takut berkeringat dan hampir semua hal di dunia kita takuti. padahal mengingat masa lalu sebagai anak kecil. innocent. berani mengexplore seluruh hal yang ada di dunia. berani mencoba semua untuk keingin-tahuan. berani memegang cicak. berani mengelus anjing. berani jatuh dan luka. berani mengekspresikan diri. menangis. tertawa. berteriak!!

begitulah nature of human being. setidaknya stereotype yang ada di otak gw saat ini. tentu saja orang lain boleh memiliki pandangan yang berbeda. tidak terbatas. sekarang hanya bertumpu pada masing-masing  manusia dalam menyikapi kehidupan.

keinginan gw untuk menjadi salah satu sumber penyebar aura postive hari ini pudar. karena salah satu ketakutan gw terjadi. ketakutan akan kekecewaan. kadang gw merasa amat sangat iri dengan kemampuan anak kecil dalam menyikapi hidup. mereka tidak akan berhenti jika manusia dewasa tidak melarang. tidak terkecuali masa kecil gw. dan gw akan tetap bermain di bawah derasnya air hujan apabila manusia dewasa yang takut akan hujan tidak menghentikan gw dan membawa gw berteduh.

gw pernah merasakan kecewa yang sangat dalam. dan cukup untuk membuat kapok. tidak ingin merasakan lagi. but again. roda kehidupan tidak selalu berada di atas. dan gw kembali dibuat kecewa. sebelumnya gw merasa bahwa kekecewaan itu akan tidak terasa menyakitkan ketika kita telah merasakannya berulang kali. dan kali ini berhubungan dengan pekerjaan, kompetisi, dan achievement. gw pernah merasakan berbagai penolakan dalam hal ini sejak setahun lalu. ketika mencoba peruntungan sebagai bekal di negeri luar sana. sebelumnya terasa sama saja sampai akhirnya gw lulus sampai tahap akhir recruitment di sebuah perusahaan asing yang merupakan top company. ideal ala ikha. walaupun masih ada waktu untuk menunggu, gw-pun tahu mereka sudah menawarkan posisi itu untuk orang lain. orang yang lebih punya kelebihan dari gw. dan dia tidak terlalu menginginkan posisi ini. gw g tau dia akan tetep ambil offer ini atau engga. lets just hope for the best.

semua terasa seperti kura-kura yang diberi anugrah sayap. keajaiban. awalnya begitu menyenangkan bisa terbang, tetapi lambat laun sayap itu tidak mampu untuk menopang cangkangnya yang berat.

dan kembali terjatuhh..

dan kembali. gw diingatkan bahwa gw masih kurang positive dalam menghadapi cobaan dari-Nya. ketidak-mampuan dalam menghadapi realita. minimalnya jam terbang. mungkin ini salah satu "tamparan halus" untuk selalu mengingat untuk tetap menengok kebawah dan tidak terus menengadahkan wajah ke atas langit. karena tidak selamanya kura-kura bisa bergantung pada keajaiban. 

so lets cheers!

No comments:

Post a Comment