kehampaan secangkir kopi

Jakarta, 31.10.2009; 3.00 PM



perkenalkan. aku adalah kopi instant. aku sering sekali disuguhkan di dalam sebuah cangkir kecil. selama masa hidupku, aku punya banyaaakkk sekali teman. bahkan tidak jarang yang menganggapku sahabat. mereka yang senang bekerja di malam hari. para perokok yang merasa hidupnya tidak lengkap tanpa kehadiranku. aku dan mereka tidak bisa dipisahkan. hidupku sangat menyenangkan.

tetapi kerap kali sahabat-sahabatku meninggalkanku terpuruk sendirian di pojok dapur. karena ulahku sendiri. mereka meninggalkanku. meninggalkan pekerjaan mereka. keluarga mereka. semua salahku. pada awalnya aku bingung ketika melihat ekspresi aneh mereka ketika meminumku dan tidak bergerak lagi. 

secangkir teh hangat berkata kepadaku, "kamu membunuh sahabatmu sendiri. kamu memberi dia heart attack. banyak yang menderita gagal ginjal. semua karena kamu dan kafeinmu itu".

aku sedih. aku tidak bisa berbuat apa-apa. tetapi mereka memang menggemariku, mendekatiku karena aku memang nikmat dengan kafeinku ini kan? sekarang aku hanya berkawan dengan air putih, susu, dan gula. mereka masih setia menemaniku. si teh? kami kurang begitu cocok. kadang kala aku merasa iri dengan keberadaan si teh yang mengandung antioksidan. membantu sahabat-sahabatku terhindar dari radikal bebas. tetapi teh kadang menganggapku sebagai rivalnya, karena banyak yang lebih memilih untuk meminumku. meminum racunku.

para pengembang bisnis juga mulai mengembangkan inovasi-inovasi rasa dengan menggunakan rasaku. tetapi tetap saja aku sedih karena aku tidak lebih bermanfaat bagi sahabat-sahabatku. seandainya saja aku bisa berteman sewajarnya dengan sahabat-sahabatku. penggemarku. bertemu tidak lebih dari sekali sehari. karena terlalu sering bertemu akan membuat kami akan semakin cepat berpisah.

seaindainya saja aku bisa bermanfaat untuk kesehaatan orang-orang yang menyukaiku. sama seperti jus buah, teh, atau bahkan air putih. aku tidak harus terlalu cepat berpisah dengan mereka. dan aku tidak akan terlupakan di pojok dapur.

No comments:

Post a Comment